Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Tembang Macapat Gambuh

Tembang Macapat Gambuh



Gambuh
Maneh-maneh welingku
Ngabektia maring rama ibu
Uga guru kabeh paring suluh becik
Kanggo nata urip besuk
Paring teken miwah obor
(Suwito, 1983:41)

(Sekali lagi nasehatku, berbakti-lah terhadap bapak dan Ibu, juga guru sebab semua memberi nasehat yang baik, untuk menjalani kehidupan kelak, memberi tongkat dan cahaya).
Watak dari tembang ini adalah memberi penjelasan, selain itu tembang Gambu menyiratkan satu sisi tentang ketergantungan manusia kepada manusia lain. Manusia memerlukan figur lain dalam membentuk kepribadian diri yang baik dan mantap. Orang tua, guru, ulama merupakan sosok yang paling ideal dan pas dala menanamkan  proses menuju kemandirian dan pendewasaan diri.
Tembang ini penuh  berisi petunjuk-petunjuk dan nasehat kepada generasi muda tentang pentingnya menghormati serta menghargai orang lain, terutama kepada orang yang lebih tua (baik orang tua/guru). Bentuk penghargaan dan penghormatan dengan jalan meng-implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, semua  ajaran, perintah dan petuah yang berkaitan dengan proses menuju arah kebaikan.
Manusia merupakan makhluk yang senantiasa lalai, oleh sebab itu tembang ini mengingatkan supaya antar sesama manusia saling mengingatkan, saling memberi nasehat dan saling memberi petunjuk, baik terhadap anggota keluarga, sanak saudara atau pun orang lain. Hal itu dilakukan sebagai  kewajiban yang harus dilakukan sebagai hamba Allah sebagai  bentuk tanggung jawab moral terhadap sesama.
Pelantuman tembang Mocopat biasanya diadakan oleh masyarakat pecinta seni tradisional di pedesaan. Pementasan ini biasanya diadakan ketika sedang melaksanakan hajatan, misal ; selamatan kandungan (pelet kandung), Mamapar (potong gigi), sunatan, ritual rokat (ruwatan anak), pesta perkawinan dan ketika memperingati hari-hari besar Islam. Durasi pembacaan Macopat pun beragam, dari durasi pendek sekitar satu jam sampai durasi panjang selama semalam suntuk. Acara ini biasanya dilaksanakan pada malam hari.
Adapun cerita yang dibawakan, tergantung dan disesuaikan  kepada situasi dan kondisi pelaksanaan hajatan. Terkadang setiap tembang dinyanyikan secara terpisah, terkadang pula mengambil variasi dari berbagai tembang. Untuk permainan semalam suntuk, dinyanyikan bermacam tembang, dari masing-masing tembang dipilih dan disesuaikan dengan cerita yang dibawakan. Biasanya untuk acara ritual rokat (ruwatan anak) menyajikan cerita Pandawa atau Betarakala, untuk Mamapar (potong gigi) dibacakan cerita Maljuna, cerita Nabbi Yusuf dibacakan pada acara selamatan kandungan (pelet kandung). Sedangkan cerita Nabi Muhammad, dibacakan ketika memperingati hari-hari besar Islam.

Selasa, 13 Januari 2015

Tembang Macapat Megatruh

Tembang Macapat Megatruh


Megatruh
Pojur onggu reng se kateban Wahyu
Enggi se olle pamanggi
Parkara se sanget parlo
Da’ bangsa amanfaadi
Asmana kodu epondjung
(Sungguh beruntung orang yang mendapat Wahyu, yaitu yang mendapatkan penerangan lahir bathin, urusan yang sangat perlu, dalam kehidupan sangat bermanfaat, namanya haruslah dijunjung tinggi).
Tembang ini biasanya dipakai untuk melukiskan perasaan kecewa ataupun kesedihan yang mendalam. Makna yang terkandung dalam syair-syairnya, selain melukiskan perasaan kecewa dan kesedihan mendalam, tembang ini menggambarkan secara jelas dan gamblang tentang ketergantungan manusia dengan Sang Pencipta. Karena sifat Maha dari Allah, maka manusia mendapat  uluran  kasih sayang-Nya, limpahan anugerah yang melimpah ruah, karunia serta Rahmat-Nya.
Selain itu tembang Megatruh mengabarkan tentang manusia-manusia pilihan (utusan) Allah SWT yang telah diturunkan ke bumi untuk menjadi  figur teladan dan panutan. Para Nabi dan Rasul merupakan utusan yang mempunyai kedudukan sangat tinggi. Hal itu disebabkan, para utusan Allah merupakan pembawa pesan serta ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan  oleh manusia. Kewajiban untuk melaksanakan semua ketentuan-ketentuan Allah dan utusan-Nya, tidak boleh ditawar-tawar sebagai wujud totalitas ketergantungan manusia pada Khalid-Nya.
Di sisi lain, secara khusus tembang ini menyiratkan tentang keberuntungan manusia  yang mendapatkan anugerah serta hidayah dari Allah SWT. Hidayah tersebut berupa keterbukaan pintu hati dalam menerima kehadiran Allah dalam bentuk utuh dalam jiwanya. Dengan demikian, sosok individu itu akan mampu meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan-nya. Dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi, maka manusia tersebut akan mampu meng-implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 12 Januari 2015

Tembang Macapat Dhandanggula

Tembang Macapat Dhandanggula


Dhandanggula
Lamon sedha ngadek rato radin
Sentosa’a neggu ka adillan
Aseya dha’ bala kene’
Ja’ lebur dha’ panggunggung
Ajja’ pesan a pele kase
Ja’ baji’ dha reng juba’
Pan jurgaepon
Soppeya mare juba’na
Ban ja’ nyeya dha’ reng nestha ban mesken
Maka sedha bellasa (Asmoro. 1991  )
(Jika sudah berani menjadi pemimpin, pegang rasa keadilan dan buat sentosa, jangan suka pekerjaab kecil, dan jangan suka mendapat pujian, jangan sekali-kali pilih kasih, janganlah benci pada orang jelek/bodoh, supaya cepat selesai kejelekannya, dan jangan menyia-nyiakan orang nestapa dan miskin, kalau bisa kasihani).
Oreng odhi’ neng e dunnya mangken
Ngagaliya dha’ kabajibanna, onenga se nyama odhi’
emota dha’ sal osol, Asallepon odhi’na dibi’
Odhi’na du parkara, Saparkaraepon
Odhi’ epon badan kasar, badan alos enggi sokma enyamae
Moga ekagaliya, badan kasar badan alos enggi
Sadajana buto ka teddha’an, sareng angguy se e sae, se raja gunaepon
Se faeda amanfaate,
Banne angguy teddha’an
Se parsasat racon, Se oneng daddi lantaran
Rosakkepon badan kasar alos pole
Se kasebbut e adha’
(Orang hidup dalam dunia sekarang, dipikirkan apa kewajibannya, tahunya cuma hidup, ingat asal-usulnya, asalnya hidup sendiri, hidup ada dua perkara, perkara pertama, kehidupan badan kasar (tubuh) dan badan halus yaitu jiwanya, semoga direnungkan, badan kasar (tubuh) dan badan halus (jiwa), semuanya butuh makanan, yang dapat dipakai untuk kebaikan, yang besar manfaatnya, bukan makanan yang dapat membawa kejelekan, yang dapat menjadi lantaran, rusaknya badan kasar dan badan halus, seperti yang disebutkan di atas).
Tembang ini mempunyai maksud dan sebuah pengharapan tentang  sesuatu dengan tujuan akhir mencapai  kebaikan. Tembang Macopat ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan perasaan suka cita atau pun ketika mencapai sebuah kemenangan. Ada pun rasa suka cita dalam tembang Artate (Dhandanggula), adalah rasa suka cita yang berlandaskan nilai-nilai tinggi ilahiyah. Bagaimana tidak ? sebagai makhluk ciptaan yang paling sempurna, manusia dikaruniai kecerdasan akal, kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual dalam upaya mengenali serta mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Melalui kecerdasan akalnya, manusia dapat memilih dan memilah kebutuhan hidup, baik yang bersifat material maupun spiritual.
Untuk bertahan dan melangsungkan kehidupannya, manusia memerlukan makanan. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan inilah, manusia diingatkan supaya berhati-hati, teliti, dan cermat agar makanan yang akan menjadi penopang kehidupannya tidak tercampur dengan makanan yang dihasilkan dari pekerjaan yang nista dan haram. Tembang ini mengingatkan agar manusia bekerja dengan tekun, rajin dan jujur, sehingga hasil yang dicapai akan menghasilkan rejeki yang halal. Rejeki halal tersebut akan  menjadi makanan yang berguna dan bermanfaat  bagi perkembangan jiwa maupun pertumbuhannya.
Di sisi lain, jiwa (roh) yang bersemayan dalam tubuh manusia  juga memerlukan makanan. Adapun makanan yang dibutuhkan oleh jiwa adalah keimanan dan ketakwaan, yaitu dengan jalan senantiasa menjalankan amal kebajikan. Dengan demikian, baik tubuh dan jiwa merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan dalam mengemban tugas sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Tembang ini juga menyiratkan sebuah pesan tentang keberadaan manusia sebagai seorang pemimpin. Karena pada hakekatnya setiap manusia adalah pemimpin, tapi bagaimanakah figur dan sosok pemimpin sejati ?  Bait-bait tembang ini memberikan nasehat, bahwa seorang pemimpin haruslah adil, terbuka, jujur dan penuh kasih sayang. Rasa keadilan tersebut harus diterapkan terutama pada sesama manusia yang berada dalam posisi lemah, miskin dan serba kekurangan. Disamping itu, figur pemimpin dapat dilihat dari kemampuannya dalam menata diri, mawas diri, mampu menahan ambisi pribadi serta mendahulukan  kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Makna suka cita dan kemenangan yang tersirat dalam tembang Artate (Dhandanggula), adalah kemenangan besar manusia melawan diri sendiri. Baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial maupun sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Minggu, 11 Januari 2015

Tembang Macapat Sinom

Tembang Macapat Sinom



Sinom
Saklangkong loros bungkana
Pappa bi’ tolop dha’ andhi’
Dhauna bi’ topeng padha
Buwa bannya’ raja kene’
Dha’ bungka padha nyelpe’
Ta’ asa pesa apolong
Se ngodha biru barnana
Ding towa oba koneng
Mon buwa eporrak, bigi katon kabbi
( Sastrodiwirjo)
(Pohonnya sangat lurus, pelepah dan ranting tidak punya, daunnya bisa dipakai payung, buahnya banyak besar dan kecil, bersatu melekat pada pohonnya, bersatu tidak terpisah, yang muda biru warnanya, bila tua berubah warna kuning, kalau buah sudah dibelah, biji baru kelihatan).
Mon ta’ rokon sataretan,
Pedjer apadu ban are’
Ontong tada’ rogi bada
Oreng towa lake’ bine’
Tlebet sossa mekkere
Daddina saaherrepon
Ta’ burung salbut salsal
San bada se klero diddi
Pon ta’ ngabbru atjaggik napso e lombar
(Asmoro, 1950: 18)
(Kalau tidak rukun se-saudara, pastilah bertengkar setiap hari, untung tidak rugi pasti, orang tua laki dan perempuan, sangat susah memikirkan, bagaimana akhirnya, paling tidak rusak berserakan, kalau ada yang salah mintalah maaf. Kalau tidak minta maaf, bertengkar dengan nafsu membara).
Tembang Sinom ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan ha-hal yang bersifat romantis, baik dalam hubungannya dengan kisah percintaan ataupun hubungan antar sesama manusia. Di samping itu, bait-bait dalam tembang ini menyiratkan tentang kemampuan membangun hubungan yang harmonis dan romantis antar sesama manusia sebagai makhluk sosial. Apabila hubungan baik telah terbangun dan terjalin,  maka akan terbentuk tatanan  sosial yang mapan. Saling menghargai, saling tolong menolong dan bersama-sama menjaga kerukunan.
Manusia merupakan makhluk yang senantiasa lalai dan berbuat kesalahan. Oleh sebab itu pintu maaf harus senantiasa terbuka. Apalagi hidup dalam suatu masyarakat yang homogen, berbagai karakter berbaur, berbagai kepentingan saling mendahului. Maka setiap manusia hendaknya membekali diri dengan sikap toleransi dan tenggang rasa yang tinggi, mempunyai kebijaksanaan dalam bergaul sehingga tercipta kedamaian yang hakiki untuk mencapai kebahagiaan lahir maup
Menuntut ilmu agama dan mewariskan kepada generasi penerus merupakan kewajiban utama. Dengan berbekal ilmu agama, manusia mampu membentengi diri dari sifat iri, dengki dan tamak serta mampu berbuat jujur baik pada diri sendiri, orang lain serta terhadap Tuhan-Nya. Di sisi lain, tembang ini mengingatkan agar manusia senantiasa berada dalam lintasan lurus, yaitu dengan cara menjalankan semua perintah-Nya, serta menjauhi semua larangan-Nya.

Sabtu, 10 Januari 2015

Tembang Macapat Pangkur

Tembang Macapat Pangkur


Pangkur
Raja onggu panremanna
Tanenmanna pon a nglebbi’I oreng
Oreng se mratane lebur
Klamon cokop landhu’na
Buwana ba’ lebba’ ka’ bungka’enna dhuluk
Nyaman bai long polongan
Panyeramanna la mare
Terjemahannya :
(Besar sekali rasa syukurnya, tanamannya sudah setinggi orang, orang yang merawat gembira, jika sudah cukup mencangkulnya, buahnya lebat sampai pohonnya meliuk, jika butuh tinggal mengambil, sebelumnya setiap saat di siram).
Perak-peral mare pasa
Tello polo are nakso e karengkeng
Tabu’ lapar nante’ bakto
Ta’ kenneng sarombanna
Pangaterro maste ngala ban atellok
Da’ ka atoranna pasa
Buka saor se epantje
(Asmoro, 1950 :19)

Terjemahannya :
(Gembira sekali setelah selesai puasa, tiga puluh nafsu ter-penjara, perut lapar menanti waktu buka, tidak bisa sembarangan, keinginan harus kalah oleh ketentuan, dan aturannya puasa, berbuka dan sahur sesuai waktu).
Tembang  Pangkor ini biasanya dipakai untuk mengungkap hal-hal yang bersifat keras, seperti kemarahan, perkelahian dan perang. Meskipun tembang Pangkor identik dengan nuansa heroic, namun banyak diantara-nya memberikan gambaran yang lugas dan gamblang tentang kekerdilan manusia dihadapan Sang Pencipta.
Selain itu, tembang ini menyiratkan satu sisi lain tentang nilai-nilai kebahagiaan yang luar biasa pada diri manusia. Kebahagiaan tersebut dicapai karena keberhasilan menjalankan  perintah-Nya. Yaitu sebuah perintah untuk menahan hawa nafsu, membersihkan hati, jiwa dan pikiran serta berbuat jujur. Kewajiban menjalankan perintah-Nya, selama sebulan penuh di bulan Ramadan yang penuh berkah.
Puasa merupakan cerminan hubungan yang paling dekat dan langsung antara manusia dengan  Sang Khalik. Hal  itu disebabkan seseorang yang sedang ber-puasa dituntut jujur terhadap diri sendiri, tidak berbohong,  taat serta berbuat baik. Akibat yang paling mencengangkan dan menakjubkan dari orang yang ber-puasa adalah intropeksi diri. Dengan melakukan intropeksi diri,  seseorang akan mampu untuk selalu jujur pada diri sendiri, orang lain dan jujur pada Tuhan-Nya.
Selain itu, syair-syair yang diguratkan dalam tembang Pangkor menyiratkan tentang perlunya manusia menjaga serta merawat lingkungannya. Dengan perawatan yang baik, maka semua yang ada di permukaan bumi ini memberikan keuntungan dan bermanfaat bagi manusia. Dari gambaran diatas dapatlah dikatakan bahwa manusia sangat bergantung kepada makhluk lainnya, sehingga keseimbangan dan ekosistem  alam akan terjaga apabila manusia berlaku arif dan bijaksana ketika mengelola kekayaan yang diciptakanNya.

Jumat, 09 Januari 2015

Tembang Macapat Asmaradhana

 Tembang Macapat Asmaradhana




Asmaradhana
Dhu tang ana’ reng se raddin, se ganteng pole parjuga
spopre enga’ ba’na kabbi.ja’ odhi’ badha  neng dunnya
kodu ba’na enga’a, sabban are korang omor, sajan abid sajan korang.
Sabellun dhapa’ ka janji, la mara pong-pong sateya
bannya’-bannya’ pangabekte, alakowa parentana, jauwi laranganna
Guste Allah Maha Agung, ngobasane alam dunnya.
Dhu tang ana’ estowagi, asareya kabecce’anmenangka sangona odhi’.
Neng dunnya coma sakejje’, omor ta’ asomaja, tako’ dhapa’ dha’ ka omor
abali ngadep dha’ Allah

Terjemahannya :
(Duh, anak-anak yang cantik, yang bagus dan gagah, supaya kamu ingat semua, hidup ada di dunia, harus kamu perhatikan, setiap hari umur berkurang, tambah lama tambah berkurang. Sebelum sampai ke janji, ayu kerjakan sekarang juga, banyak-banyak berbakti, kerjakan perintah Tuhan, jauhi larangan Tuhan, Gusti Allah Maha Agung, menguasai alam dunia. Duh anak yang mendapat restu, carilah kebajikan, sebagai bekal hidup, takut sampai kebatasnya umur, kembali menghadap Allah).

 Asmaradhana
O, Alla se Maha Socce, Pangeranna alam dunnya,
Ngera-ngera pon ta’ oneng, Ran-maheran paparengnga, Se badha neng e jagat,   Mecem-macem jutan ebun, hawa aeng apoy tana.
Akadi bintang e elangnge’, Gunggungnga sera onengnga
Nyo’on maaf langjkong sae
Opama badha atanya, mara kagali tretan
Pera’, emas menya’ lantong, tatombuwan ka’bungka’an
Durin salak jeruk manggis
Dha’-tedha’an manca barna
jaran macan juko’ rengnge’
Lantaran dhari bannya’na
Lerressa ta’ bangal tanggung
Ressem lecek lamon mongkat.                             
(Anggoyudo, 1983 :   )

Terjemahannya :
(Allah Yang Maha Suci, penguasa alam dunia, diperkirakan jumlahnya tidak tahu, sangat mengherankan pemberiannya yang ada di dunia, beribu-ribu, berjuta, udara, air, api dan tanah. Seperti bintang di langit, besarnya siapa yang tahu, minta maaf lebih baik, sekiranya ada yang tanya, ayo pikirkan saudara, perak, emas, minyak, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Buah durian, salak, jeruk, manggis, buat makanan beraneka warna, macan, kuda, ikan sampai nyamuk, tak sanggup menghitung, sebenarnya tidak berani menanggung, karena banyaknya ciptaan).
Asmaradhana atau Kasmaran (Madura), berarti suka, kasengsem (jatuh cinta). Tembang ini biasanya digunakan untuk menggambarkan perasaan cinta ataupun rasa sedih. Selain itu juga memberikan gambaran rasa senang, bahagia, tidak ada pikiran susah dan senantiasa berada dalam kondisi gembira.
Walaupun tembang Kasmaran senantiasa menyiratkan aroma kegembiraan dan kebahagiaan, tembang ini juga memberikan gambaran utuh tentang kewajiban manusia terhadap sesama manusia ataupun kewajiban manusia terhadap Khalik-Nya. Dalam arti manusia harus seimbang dan selaras dalam menata hubungan, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Tembang ini mengingatkan betapa pentingnya tali silaturahmi ditautkan. Saling menyapa, saling berkunjung, saling membantu terhadap tetangga ataupun sanak saudara. Menyambung tali silaturahmi merupakan ungkapan perasaan kasih sayang dan akan memberikan dampak kegembiraan serta kebahagiaan terhadap sesama manusia.
Salah satu sifat manusia adalah senantiasa berbuat khilaf dan lalai. Dalam syair-syairnya, tembang Kasmaran mengingatkan tentang kewajiban manusia terhadap Sang Pencipta. Segala keindahan perhiasan yang ada di dunia ini, jangan sampai memalingkan manusia dari Sang Pencipta. Kewajiban manusia yang utama adalah beribadah kepada-Nya. Untuk itulah manusia senantiasa diajak  berbuat kebajikan, menjauhkan diri dari perbuatan  hina, keji, khianat dan mungkar. Di samping itu juga diingatkan tentang  batas umur yang dikaruniakan oleh-Nya, jangan sampai terbang percuma dan sia-sia. Karena kehidupan manusia ibarat berada di persimpangan untuk menuju kehidupan yang lebih hakiki dan abadi.
Di sisi lain tembang Kasmaran menyiratkan kebesaran alam ciptaan-Nya. Dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, seluruh alam semesta dan semua penghuni yang ada di bumi, mulai  tumbuh-tumbuhan, hewan darat maupun hewan  laut ditundukkan serta diperuntukkan  oleh Sang Maha Pencipta kepada  umat manusia. Melalui tembang ini manusia diingatkan untuk senantiasa bersyukur atas  kenikmatan yang demikian besar. Selain mensyukuri nikmat-Nya, manusia diingatkan untuk memikirkan kebesaran Sang Pencipta dalam upaya mempertebal iman sebagai bekal  beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya.

Kamis, 08 Januari 2015

Tembang Macapat Durma

Tembang Macapat Durma



Durma
Lamon dika epassrae panggabayan
Ampon mare apekker
Terang ka’ekko’na
Adjanji maranta’a
Pon pon brinto tarongguwi
Anggap tanggungan
Ma’ ta’ malo da’ oreng
(Asmoro, 1950 ; 19)

Terjemahannya :
(Jika kamu mendapat beban pekerjaan, sudah selesai dipikir, tentang seluk-beluknya kerja, usaha untuk menyelesaikan, jika demikian haruslah serius, bekerja dengan penuh tanggung jawab, agar tidak mengecewakan orang).
Di samping melambangkan tentang nafsu manusia, tembang ini menyiratkan hubungan yang sangat erat antar manusia sebagai makhluk sosial. Dalam menjalankan kehidupannya, manusia senantiasa memiliki ketergantungan pada manusia lainnya. Dengan adanya ketergantungan tersebut, maka setiap individu dituntut untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Terutama tanggung jawab dalam mengemban tugas. Dalam arti nilai-nilai profesionalisme benar-benar dijunjung tinggi.
Tanggung jawab akan melahirkan rasa aman sekaligus rasa percaya terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Dengan bertanggung-jawab  hubungan antara sesama manusia menjadi  serasi dan harmonis, sehingga menghilangkan rasa saling curiga dan buruk sangka. Dengan demikian maka hubungan yang dilandasi saling percaya, saling ketergantungan, saling bertanggung-jawab serta memiliki keterikatan yang kuat akan menjauhkan manusia dari segala permusuhan.

Rabu, 07 Januari 2015

Tembang Macapat Maskumambang

Tembang Macapat Maskumambang



Maskumambang
Mon nyaroan ratona banne ngerenge
Mastena nyarowan
Tao se ekabutowen
Dha’ ka oreng a manfaat
Terjemahannya sebagai berikut :
(Kalau lebah pemimpinnya bukan kecoak, seharusnya lebah, mengerti tentang kebutuhan, kepada manusia sangat bermanfaat).
Tembang Maskumambang menyiratkan sebuah hubungan yang sangat serasi, seimbang dan harmonis antara manusia dan semua makhluk hidup. Dengan akal pikirannya, manusia diajak untuk membaca, menyimak memperhatikan serta memikirkan serta mengambil manfaat dari keberadaan makhluk hidup lainnya. Hal itu sesuai dengan kapasitas manusia sebagai pengemban amanah di bumi.
Melalui alunan  tembang Maskumambang, manusia diajak untuk membaca secara detail fenomena alam dan mengambil hikmah dari semua makhluk ciptaan Allah SWT. Sekecil apapun bentuk dari makhluk ciptaan-Nya tetap memberikan nilai dan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Di samping itu tembang Maskumambang mengungkapkan suasana hati yang rawan akibat kesedihan dan keprihatinan yang mendalam.

Selasa, 06 Januari 2015

Tembang Macapat Mijil

Tembang Macapat Mijil



Mijil
Tapa tedhung ka dhaja alowe,
Biridda emaos,
Atena sorat Yasin se dhingen.
Paparengnga ma’ keyae,
Enggi ebaca bajengnge,
Pon ta’ poron ambu
Sakeng rajana terro dha’ pottre,
Nyegga’ nase’ juko’,
Pon ta’ tedhung salanjangnga are,
Asena brang tadha’ pottre raddin,
Dha’ Allah amoji,
Nyo’on duli kabbul.
Kacator se atapa pon abit,
Badanna pon geddur,
Ta’ aguliyan sakale-kale.
Matang-matang enga’ oreng mate,
Ta’ kowat akebbi’,
Gun nyaba akelbu’……
(Asmoro, 1930…)

Terjemahannya sebagai berikut  :
(Tapa tidur ke paling utara, wiridnya dibaca, hatinya surat Yasin yang dulu diberi Ulama, sudah dibaca dengan rajin, dan tidak mau berhenti. Karena besarnya keinginan ke putri, makan nasi ikan, sudah tidak tidur sehari-semalam, hampa tanpa rasa putri cantik, kepada Allah memuji minta dikabulkan. Sudah berjalan tapanya sudah lama, tubuhnya lemas tanpa urat, tidak ada gerak sedikit pun, kelihatan sudah seperti orang mati, tidak kuat menahan, Cuma nafas yang kelihatan).

Mijil
Langnge’ biru bintang tep ngarettep
Sabenne mancorong
Bulan bunter tjahya pote koneng
Tera’ ngantar ampon sasat are
Neng panas ta’andi’
Gneko bidha epon

Terjemahannya sebagai berikut :
( Langit biru bintang bertebaran sinarnya, Sinarnya menyilaukan, Bulan bulat cahaya keemasan. Terang bulan karena hari suah senja, Panas tidak ada, Itu perbedaannya).
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Begitu besar kasih sayang Allah kepada makhluk yang bernama manusia, sehingga seluruh alam raya yang diciptakan hanya untuk kemaslahatan umat manusia. Namun banyak sekali manusia yang lupa bersyukur akan kebesaran kasih sayang Allah SWT. Alunan syair tembang Medjil mengingatkan, supaya manusia tidak melupakan nikmat yang diterimanya. Manusia diajak untuk menggunakan kepekaan batin sekaligus rasionya untuk memikirkan kebesaran alam semesta. Dengan begitu manusia dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa Sang Maha Pencipta, Allah  Ajja wa Jalla merupakan muara akhir dari perjalanan hidup manusia.
Dalam syair-syairnya tembang Medjil mengisyaratkan sebuah pesan tersirat, bahwa dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani manusia tidak mampu bersandar pada kemampuan diri semata. Ada sebuah Zat yang senantiasa memberi pertolongan, perlindungan sekaligus memberikan rahmat dan karunia. Di samping itu manusia senantiasa diingatkan pada sebuah kesadaran yang hakiki, bahwa Sang Maha Pencipta adalah tempat memohon, tempat bersandar, tempat meminta, tempat berpasrah diri, tempat berharap dan merangkumkan doa-doa sebagai pengakuan diri sebagai makhluk yang dhoif dan lemah.

Senin, 05 Januari 2015

Tembang Macapat Pucung

Tembang Macapat Pucung


Pucung
Pon angongngong pa’na Putjung
Dja’ onengga ngotja’
Lora tore rassa’agin
Kasennengan tebbasa mlarat sampeyan
(Asmoro, 1950:21)

Terjemahannya sebagai berikut :
(Sudah terdengar ceritanya bapak Putjung, jika saja bisa mengutarakan, coba rasakan kesulitannya, kesenangan terbayar dengan kemiskinan-mu)
Tembang ini mempunyai watak sembrana parikena (sembarangan), biasanya dipakai untuk menceritakan hal-hal yang ringan, jenaka atau teka-teki. Adapun  tataran yang lebih luas, isi dari tembang Pucung memberikan penggambaran hubungan yang sangat harmonis dan serasi antara sesama manusia sebagai makhluk Tuhan. Apakah manusia itu mempunyai kedudukan dan status tinggi dalam masyarakat, ataupun manusia itu hanya sebagai hamba sahaya. Tembang ini mengingatkan kepada manusia, terutama kepada para penguasa, para majikan, para juragan, para atasan agar tidak berbuat sewenang-wenang.
Tembang Pucung menggambarkan hubungan antara pemberi perintah dan penerima perintah. Walaupun berada dalam posisi yang lebih tinggi, kaya dan mapan, manusia dihimbau agar tidak silau dan berbuat tidak adil kepada para pelayan, bawahan, hamba sahaya. Karena para bawahan, pembantu mempunyai andil yang sangat besar bagi kesuksesan yang di raih. Hal itu sebagai suatu bukti, bahwa manusia membutuhkan orang lain, manusia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.
Tembang ini mengungkapkan tentang nasehat kepada sesama manusia, dalam menjalin hubungan dengan sesama untuk lebih mementingkan rasa rendah hati dan tenggang rasa yang tinggi. Seseorang yang mempunyai status dan kedudukan lebih tinggi, dihimbau  memperlakukan bawahan untuk lebih bersikap manusiawi.

Minggu, 04 Januari 2015

Tembang Macapat Kinanti

Tembang Macapat Kinanti


Kinanti
Mara kacong ajar onggu, kapenterran mara sare
ajari elmo agama, elmo kadunnya’an pole
sala settong ja’ pabidda, ajari bi’onggu ate
Nyare elmo pataronggu
sala settong ja’ paceccer
elmo kadunnya’an reya
menangka sangona odhi’
dineng elmo agamana, menangka sangona mate.
Paccowan kenga’e kacong, sombajang ja’ la’ ella’e, sa’ are samalem coma
salat wajib       lema kae
badha pole salat sonnat, rawatib ban salat lail
(Anggoyudo, 1983:  )

(Ayo anakku belajar yang tekun, kepandaian itu harus dicari, belajar pengetahuan agama, juga pengetahuan dunia, jangan dibedakan, belajar dengan kesungguhan hati. Mencari ilmu harus serius, salah satu jangan ditinggalkan, ilmu keduniaan itu, keperluan hidup, sedangkan ilmu agama, adalah bekal untuk mati. Selain itu ingatlah anakku, sembahyang jangan sampai lubang, satu hari satu malam, sholat wajib lima kali, ada juga shalat Sunnah, rawatib dan shalat malam hari).

Kinanti
Bungka nyeor buwa bhalulug
Bhalulugga daddi tjengker
Se tjengker daddiya buggan
Se buggan daddiya pathe
Se pathe daddiya minyak
Mennya’ daddi damar kene’
(Asmoro, 1950:27)

(Pohon kelapa berbuah beluluk, beluluk menjadi cengker, buah cengker menjadi kelapa, kelapa menjadi santan, santan menjadi minyak, minyak bisa menjadikan terang)
Secara lugas, Salanget (Kinanti) mempunyai arti sudah selesai menanti, sesuai dengan arti apabila dipakai sewaktu dicari sudah diketemukan, apa yang diinginkan sudah tercapai. Di samping itu tembang Salanget (Kinanti) banyak berisi nasehat atau anjuran kepada manusia, untuk saling memberi, saling menerima, saling mengingatkan dan saling ketergantungan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, Penguasa alam semesta.
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan  orang lain dalam memotivasi diri menuju arah kebajikan. Sebagai makhluk lemah dan dhoif, manusia membutuhkan tuntunan dalam kehidupan ber-masyarakat. Melalui tembang Kinanti inilah, manusia akan lebih peka menangkap arti hidup dan kehidupan di dunia.
Di samping itu tembang Salanget (Kinanti) mengajak setiap manusia untuk lebih meningkatkan mutu individu melalui proses belajar. Manusia diingatkan agar menguasai ilmu pengetahuan, baik dalam bidang IPTEK maupun disiplin ilmu agama. Karena kedua disiplin ilmu tersebut, memiliki intensitas yang tinggi bagi kemaslahatan umat manusia. Dengan menguasai IPTEK, manusia akan lebih menyadari tentang kebesaran Tuhan yang diperlihatkan melalui ciptaan-Nya. Bahwa semua yang ada di alam, merupakan sumber ilmu yang tak pernah habis apabila digali dan di pelajari. Dan semua itu harus diimbangi oleh penguasaan ilmu agama. Sehingga terjadi keseimbangan, bahwa hidup manusia bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, tapi aspek rohani merupakan  kebutuhan yang sangat vital.
Allah SWT telah memberikan semua sarana dan prasarana yang memadai kepada umat manusia. Semua yang ada di bumi, baik dalam perut bumi, di daratan, lautan, angkasa raya, tata surya ataupun semua yang tumbuh di bumi semua diciptakan untuk manusia. Semua ciptaan Allah, sekecil apapun sangat bermanfaat bagi manusia. Melalui tembang Salanget (Kinanti), manusia diajak untuk lebih peka, arif dan bijaksana, terbuka cakrawala berfikir dan wawasan.

Rabu, 31 Desember 2014

Gambaran Tembang Macapat Dalam Kehidupan

Penjabaran Tembang Macapat Dalam Kehidupan


1. MIJIL
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harusnetepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaranmantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.
Tembang Mijil ngemu sifal : prihatin, ngemurasa, lega
Tembang macapat mijil laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=oD2lGnGwgbg 

2. MASKUMAMBANG
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.
Tembang maskumambang ngemu sifat : ngeres, nelangsa.
Tembang  macapat maskumambang laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=lf0J-syqwRU 

3. KINANTI
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.
Tembang kinanthi ngemu sifat : tresna, asih, seneng.
Tembang  macapat kinanthi laras slendro pathet manyura  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=_rIKQWi46Yc 

4. SINOM
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.
Tembang sinom ngemu sifat : grapyak.
Tembang  macapat sinom laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=QU9vzYNEBnE 

5. DHANDHANGGULA
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya  menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya
Tembang dhandhanggula ngemu sifat : luwes, ngresepake.
Tembang  macapat dhandhanggula laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=cU7srYIlToI 

6. ASMARANDANA
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah  memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
Tembang asmarandana ngemu sifat : kesemsem.
Tembang  macapat asmarandana laras slendro barang miring  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=BQLaDuVIUJU 

7. GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.
Tembang gambuh ngemu sifat : semanak, lucu, guyon.
Tembang  macapat gambuh laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=RwA2Cw9ZuZM 

8. DURMA
Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal  banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya,dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst.  Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus  menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.
Tembang durma ngemu sifat : galak, nesu.
Tembang  macapat durma laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=ThrQDabn8Cc 

9. PANGKUR
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!
Tembang pangkur ngemu sifat : nepsu kang prihatin.
Tembang  macapat pangkur laras pelog pathet 6 dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=2ilg05pAVoI 

10. MEGATRUH
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali.  Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar,  namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri.  Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
Tembang megatruh ngemu sifat : getun, nglangut.
Tembang  macapat megatruh laras pelog pathet barang dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=0TX1E-9vmxQ 

11. POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.
Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan.  Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri  semua bikin gelisah hati.  Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan.  Malah-malah yang suka menuduh  menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.
Tembang pocong ngemu sifat :
Tembang  macapat pocong laras slendro pathet manyura dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=n3sSYOBdtu8

Jumat, 26 Desember 2014

Jenis Metrum Macapat

Jenis Metrum Macapat


Jumlah metrum baku macapat ada limabelas buah. Lalu metrum-metrum ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Kategori tembang cilik memuat sembilan metrum, tembang tengahan enam metrum dan tembang gedhé satu metrum.
Ada beberapa jenis tembang macapat. masing-masing jenis tembang tersebut memiliki aturan berupa guru lagu dan guru wilangan masing-masing yang berbeda-beda. Yang paling dikenal umum ada 11 jenis tembang macapat. Yaitu, Pucung, Megatruh, Pangkur, Dangdanggula, dll. Lebih lengkap nya sebagai berikut,
  1. Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
  2. Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambangselain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
  3. Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
  4. Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
  5. Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.
  6. Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.
  7. Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
  8. Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
  9. Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
  10. Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
  11. Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.
Ada pula yang memasukkan tembang gede dan tembang tengahan ke dalam macapat. Tembang-tembang tersebut antara lain
  1. Wirangrong berarti trenyuh ( sedih ), nelangsa ( penuh derita ), kapirangu ( ragu-ragu ),. Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.
  2. Jurudemung berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.
  3. Girisa berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.
  4. Balabak, dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

Selasa, 23 Desember 2014

Pengertian Macapat

Pengertian Macapat


Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab, di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.
Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam 'daftar isi' saja. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.
Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.
Kalau dibandingkan dengan kakawin, aturan-aturan dalam macapat berbeda dan lebih mudah diterapkan menggunakan bahasa Jawa karena berbeda dengan kakawin yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, dalam macapat perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.

Etimologi

Pada umumnya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Seorang pakar Sastra Jawa, Arps menguraikan beberapa arti-arti lainnya di dalam bukunya Tembang in two traditions.
Selain yang telah disebut di atas ini, arti lainnya ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat.
Kemudian menurut Serat Mardawalagu, yang dikarang oleh Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya ialah "melagukan nada keempat". Selain maca-pat-lagu, masih ada lagi maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu. Konon maca-sa termasuk kategori tertua dan diciptakan oleh para Dewa dan diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Ternyata ini termasuk kategori yang sekarang disebut dengan nama tembang gedhé. Maca-ro termasuk tipe tembang gedhé di mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara. Maca-tri atau kategori yang ketiga adalah tembang tengahan yang konon diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Dan akhirnya, macapat atau tembang cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali.

Sejarah macapat

Secara umum diperkirakan bahwa macapat muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh ada sebuah teks dari Bali atau Jawa Timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawé dikatakan telah selesai ditulis pada tahun 1334 Masehi. Namun di sisi lain, tarikh ini disangsikan karena karya ini hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan semua naskah yang memuat teks ini berasal dari Bali.
Sementara itu mengenai usia macapat, terutama hubungannya dengan kakawin, mana yang lebih tua, terdapat dua pendapat yang berbeda. Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhé sebagai perantara. Pendapat ini disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut kedua pakar ini macapat sebagai metrum puisi asli Jawa lebih tua usianya daripada kakawin. Maka macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin pudar.

Struktur macapat

Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada. Setiap pupuh menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.
Jumlah pada per pupuh berbeda-beda, tergantung terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra. Sementara setiap larik atau gatra ini dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda. Setiap gatra jadi memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama pula.
Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata ini diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu.



Jumat, 05 Desember 2014

Tetenger Kutha Solo minangka Kutha Wigati

Tetenger Kutha Solo minangka Kutha Wigati 

 

Salebare Proklamasi Kamardikan Republik Indonesia lan prastawa gerakan swapraja ing Kutha Solo, feodalisme asumber panguwasane kaum ningrat ing Kutha Solo ora ana ajine maneh. Kahanan mangkene ini ndadekake R.M. Saptono lan R.M. Bandi nandhang kapitunan. Sanajan duwe gelar ningrat, wong loro kuwi uripe dadi kadidene wong cilik.
Kekarone ngrasakake angel mangan, ngrasakake jaman rekasa nalika perang ora mendha, lan swasana politik ing Kutha Solo kang ndadekake urip lan panguripan sarwa angel. Bendi sing duwe sipat ora preduli marang kahanan, nanging wusana dheweke pengin banget melu perang, dheweke gregetan meruhi polah tingkahe penjajah Walanda.
”Bandi iki wonge pengin banget perang,” ujare panulis novel Tak Ada Nasi Lain, Suparto Brata, ing adicara dhudhahan novel kuwi ing Balai Soedjatmoko Solo, Rebo (17/7) wengi. Bandi kuwi kancane Saptono–yaiku Suparto Brata dhewe–urip ing Gajahan, Solo. Ing pungkasane, Bandi mati ing perang.
”Kijinge ing Jurug [Taman Makam Pahlawan], kanti tenger R.M. Bandi,” ujare Suparto. Miturut novelis sejarah RM Daradjadi, lumantar novele kuwi Suparto kasil nuwuhake rasa kesengsem. “Kaca siji nganti satus aku durung ngerti arahe crita. Nalika mlebu kaca satusan punjul, aku bisa ngerti lan aku kesengsem,” ujare Daradjati.
Novel kasebut mbeber swasana kutha Solo nalika geger salebare Proklamasi Kamardikan Republik Indonesia. Geger kuwi jalaran tentara Walanda utawa NICA sing arep njajah maneh tlatah Indonesia. Kajaba kuwi, uga crita laskar-laskar utawa prajurit ora resmi ing Solo kang duwe kepentingan dhewe-dhewe.
Uga geger jalaran ngrembakane ideologi komunis, salebare feodalisme  kasih dirombak lan Indonesia nganut politik terpimpin. “Solo kuwi kutha kang wigati. Ora ana prastawa wigati ing level nasional sing ora diwiwiti saka Kutha Solo,” ujare Daradjadi.
Ing taun-taun salebare proklamasi, yakuwi 1947-an luwih, ing kutha sing sadurunge dadi wewengkon Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat lan Pura Mangkunegaran iki duwe prinsip ngregani sapadha-padha. Suparto ngandharake kahanan Solo kanthi  apik lan urut. Paraga Saptono, lakon utama ing novel kasebut, urip kaya rakyat cilik liyane.
Miturut sejarawan Heri Priyatmoko, sanajan ing novel kasebut ana katrangan sing ora bener lan ora faktual, nanging kasil nggambarake swasana jaman kuwi. Drajat sosial para ningrat asumber kraton sansaya entek gara-gara dikuwasani penjajah Jepang lan wusana dadi wewengkone Republik Indonesia.
Miturut Heri, novel iki uga nggambarake kanthi cetha sesambungan sosial antara wong cilik lan golongan ningrat. Novel iki bisa mbiyantu ilmuwan sosial naliti tingkatan sosial ing pabrayan agung kutha tilas punjere krajan. (Ahmad Hartanto)

 

Kamis, 04 Desember 2014

Sastra lan Nostalgia

Sastra lan Nostalgia

 

Maca karya sastra kuwi sok-sok ngiras pantes nostalgia. Kuwi sing krasa nalika Pawon Sastra tembayatan kalawan Balai Soejadmoko, Rebo (17/7) wengi kapungkur,  ngadani adicara ndhudhah buku asesirah Tak Ada Nasi Lain, novel abasa Indonesia karyane Begawan Sastra Jawa Suparto Brata.

Buku iki weton Penerbit Buku Kompas, Mei 2013. Novel sing 50 taun kapungkur kapacak minangka crita landhung ing Kompas kuwi  narik kawigatene para sutresna sastra, mligine para nom-noman. Crita sing kababar ing novel iki dumadi ing Kutha Solo lan tlatah sakiwa tengena ing pungkasan penjajahan Walanda, jaman penjajahan Jepang, nganti jaman dumadine paprangan sawise Bung Karno lan Bung Hatta mbiwarakake proklamasi kamardikan Indonesia.
Para sastrawan lan sutresna sastra kang teka ing dhudhahan novel kasebut nelakake lamun novel ”sejarah” iki ditulis kanthi cara mbabar pengalaman kang temen-temen dialami dening panulisme. Cara nulis novel kang mangkene ini ndadake sing maca kaya-kaya bisa ngrasakake apa kang dumadi ing jaman dumadine crita kasebut. Panulis lan crita sing ditulis kaya-kaya ora ana let. Iki ndadekake sing maca uga rumangsa ora keletan kalawan apa kang dicritakake.
Novel ini ngandhut daya ngejak sing maca supaya tansah ngrumat ”rasa sejarah”. Novel iki uga nggambarake lamun ing sejarah bangsa Indonesia, wiwit jaman ngrebut kamardikan nganti ngukuhi kamardikan, Kutha Solo mujudake tlatah kang wigati. Kepara nganti titi wanci iki Kutha Solo tetap dadi tlatah kang wigati gegayutan apa kang dumadi ing madyaning bangsa lan negara Indonesia.
Lelandhesan cathetan sejarah, ora ana kedadeyan penting sing ora ana gepok senggole kalawan warga lan Kutha Solo. Ing novel iki gegambaran kanyatan mangkono mau ketara banget. Kutha Solo lan tlatah sakiwa tengene sing duwe kabudayan apunjer kraton dibabar kanthi “rasa sejarah” kang kandel banget. Lan kanyatan sejarah nalika para ningrat kudu kelangan kaningratane sawise revolusi kamardikan uga dibabar kanthi ”rasa sejarah” sing temen-temen.
Novel Tak Ada Nasi Lain sugih simbol. Ing jaman penjajahan Walanda utawa nalika Paku Buwono X jumeneng nata ing Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, rakyat kudu ngecakake pranatan baku kanggo ngurmati Paku Buwono X, kluwarga lan para ningrat pandhereke. Nanging ing jaman penjajahan Jepang, tata cara mangkono mau sinebut ”perbudakan”. Lurik sing dadi sandhangan rakyat dianggep simbol urip mlarat. Dene coklat pawehe wong Jepang dadi barang sing ngundang rasa cubriya.
Balungan crita ing novel iki apunjer kluwarga ningrat Wirosaroyo sing urip ing jaman ngukuhi kamardikan lan ngupaya ngangkat drajate bangsa Indonesia ing jagad internasional. Novel iki nggambarake wolak-waliking jaman apunjer lelakon uripe bocah lanang sing jenenga Saptono—gegambaran jaman cilike Suparto Brata.
Novel iki kasil nggambarake “kanyatan” kang dumadi ing jaman penjajahan Walanda, jaman penjajagan Jepang lan kawitan jaman kamardikan. Tata cara mangan lan sesambungan kluwarga digambarake kanthi pepak nanging natural. Sing maca novel iki bakal nemokake gegambaran swasana kluwarga sing kadayan dening wolak-waliking jaman.
Novel Tak Ada Nasi Lain iki nyumbang cathetan wigati tumrap upaya ndhudhah sejatining Kutha Solo lan kabeh isine.  Novel sepisanan karyane Suparto Brata iki kuwawa ngejak para sesepuh ngeling-eling, nostalgia, jaman sekolah lan wacan-wacan jaman kuwi sing tansah ndhidhik para siswa murih tansah taberi maca. Suparto Brata ing taun iki ngancik yuswa 81 taun lumantar novel iki nandhesake supaya generasi mudha jaman saiki aja nganti ninggalake budaya maca lan nulis.

 

Rabu, 03 Desember 2014

Novel kanggo Ngrumat Sujarah

Novel kanggo Ngrumat Sujarah

 

Maca buku sejarah wigati kanggo mangerteni sejatining kang dumadi ing jaman kawuri lan ing titi wanci saiki. Hamula buku sejarah sing kababar arupa buku dening penerbit dadi buku wajib tumrap para siswa ing sekolah formal.
Buku sejarah kuwi ngamot katrangan maneka warna kang anjoge bisa dadi kaca benggala tumrap urip ing jaman saiki lan ing jaman yang bakal teka. Emane, isih akeh bab-bab wigati kang dumadi ing jaman kawuri ora kacathet ing buku-buku sejarah kuwi mau.
Dina Jemuah, 17 Agustus 1945, Bung Karno lan Bung Hatta mbiwarakake kamardikan Republik Indonesia kanthi maca teks proklamasi. Tegese, ing dina kuwi ngadeg negara Republik Indonesia sing mardika. Nanging generasi mudha jaman saiki ora padha ngerti piye swasana pabrayan agung nalika prastawa kang kebak tapsiran sejarah kuwi dumadi.
Apa kabeh warga pabrayan agung sing wiwit dina kuwi sabanjure kasebut Republik Indonesia kabeh padha seneng? Yen ta seneng, senenge kepriye? Swasana kasebut ora digambarake ing buku-buku sejarah. Swasana kang mangkono mau bisa dibabar dening Begawan Sastra Jawa, Suparto Brata, ing novel abasa Indonesia asesirah Tak Ada Nasi Lain, weton Penerbit Buku Kompas, 2013.
Novel “sejarah” sing kababar sepisanan 50 taun kapungkur ing wujud crita landhung sing kamot ing ariwarti Kompas kuwi katulis ing basa Indonesia nanging crita sing kakandhut kenthel dening kabudayan Jawa, mligine kabudayan ing Kutha Solo lan sakiwa tengene. Ing buku kasebut Mbah Parto—mangkono sesebutan sing kaprah tumrap Suparto Brata—nyritakake swasana nalika kluwarga pegawai sepur padha ngungsi saka Garut tumuju Sragen.
Uga ada gegambaran swasana nalika tentara Divisi Siliwangi iang Jawa Barat kudu long march, ngungsi menyang Solo. Malah ana uga gegambaran swasana nalika Partai Komunis Indonesia madeg kraman sedya ngrebut panguwasa ing taun 1948. Kedadeyan-kedadeyan wigati kanggo merdeni apa kang dumadi ing jaman kawuri kasebut dening Mbah Parto diracik adhedhasar pengalaman pribadine, ora asumber saka buku-buku utawa critane wong-wong liya.
”Novel iki [Tak Ada Nasi Lain] dak tulis seket taun kepungkur. Ora bisa kababar nganti 1990-an kamot ing ariwarti Kompas minangka crita landhung. Wulan Mei wingi [Mei 2013] bisa bisa kababar ing wujud buku,” ujare Mbah Parto nalika medhar andharan ing  dhudhahn novel Tak Ada Nasi Lain ing Balai Soedjatmoko Solo, Rebo (17/7) wengi kapungkur.
Novel kasebut nyritakake paraga bocah keturunan ningrat sing jenenge Saptono. Paraga bocah iki gegambaran pribadine Suparto Brata dhewe. Bocah kuwi dititipake ing kluwarga ningrat ing Gajahan, Solo. Novel 545 kaca kasebut mbabar kahanan Kutha Solo lan sakiwa tengena ing  antarane taun 1938-1958. Maca novel ini bakal nuwuhake gegambaran kahanan pabrayan agung ing Solo lan sakiwa tengene ing jaman penjajahan Walanda, Jepang, jaman perang kamardikan lan jaman ideologi komunis ngrembaka ing tlatah Indonesia.
Miturut panulis novel wayang, Pitoyo Amrih, kang rawuh ing dhudhahan buku kasebut, novel karyane Mbah Parto kuwi kapetung novel ing basane samadya, kepenak diwaca. Miturut Pitoyo, Mbah Parto kasil nggawa swasana batine, rasa wedi lan seneng, sarta swasana wewengkon Solo nalika jaman penajajahan Walanda, jaman penajajahan Jepang, jaman ideologi komunis ngrembaka lan jaman nalika akeh cecongkrahan ing antarane warga Republik Indonesia.
Miturut Pitoyo, novel abasa Indonesia sing kenthel banget Jawane kuwi bisa dadi kaca benggala kanggo merdeni laku jantraning urip pabrayan agung ing Kutha Solo lan tlatah sakiwa tengene. ”Aku nyathet ana sing langka temen-temen ing novel iki. Panulis ngandharake pengalaman uripe ing novel ini, ora ana let antarane panulis lan crita sing dibabar,” pratelane Pitoyo.
Basane uga kepenak lan bisa nuwuhake rasa katut, keli, lan kaya-kaya bisa ngrasakake apa kang dumadi ing jaman sing dadi latare crita kasebut. Miturut Pitoyo, bab mangkene iki tangeh lamun bisa tuwuh nalika maca buku sejarah, cathetan sejarah, utawa ensiklopedia sejarah. Ana pasarta dhudhan buku kasebut, Susanto, sing nyaruwe jalaran nemokake ana fakta utawa kanyatan yang beda utawa cengkah kalawan apa sing kababar ing novel kasebut.
Susanto uga nyaruwe novel kasebut ora ngamot tanggal, sasi lan taun tumrap kedadeyan-kedadeyan yang mujudake kedadeyan ngamot tapsiran sejarah tumrap laku jantraning pabrayan Kutha Solo lan Republik Indonesia. Susanto nelakake ing novel kasebut Proklamasi Kamardikan Republik Indonesia mung ditulis dumadi ing dina Jemuah, tanpa tanggal, sasi, taun lan jam.
Nanging Susanto uga ngalem novel kasebut jalaran kebak simbol. Simbol kasebut kayata nalika jaman penjajahan Jepang para abdi dalem kraton disebut “budak raja”. Sesebutan mangkene iki ora ana nalika jaman penjajahan Walanda. Krungu panyaruwe mau, Mbah Parto nelakake duwe krenteg bakal gawe revisine ing babaran sing kapindho.
Nanging, Pitoyo ora sarujuk marang krentege Mbah Parto mau. Miturut dheweke novel asli kasebut wigati minangka “cathetan sejarah kasusastran”. Novel sing asli kasebut—tanpa revisi—nuduhake gegambaran kahanan, pengalaman dan swasana ing jaman sing dadi latare novel kuwi.  Pitoyo nelakake novel kasebut genah dudu buku sejarah, sanajan crita sing kababar pancen pengalaman nyata.
”Ora prelu direvisi, kareben asli kaya iki,” pratelane Pitoyo. Apa kang ndayani Mbah Parto saengga seket taun kapungkur nulis novel kasebut? Miturut Mbah Parto, nalika dheweke sekolah ”angka loro” ing Sragen, saben dina mung sinau maca buku lan maca buku. Maca buku ing jaman kuwi mujudake laku kang wigati banget. Nalika jaman Walanda, para siswa keturunan ningrat kudu maca buku. Ing jaman penjajahan Jepang, para siswa uga wajib maca buku.
”Jaman saiki para siswa sekolah ora dikulinakake maca buku. Aku prihatin kahanan saiki. Bocah lulus SMA rata-rata durung ngrampungake buku siki. Jaman nalika aku isih sekolah biyen sinau kuwi ya maca buku. Tangeh lamun gegayuhan dadi kanyatan tanpa maca buku,” pratelane Mbah Parto. Ing pungkasan adicara dhudhahan buku kuwi, Mbah Parto ngelingake kabeh sing teka lamun siji-sijine dalan kanggo mbangun bangsa iki ora liya ngulinakake maca buku.

 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting