- Mengenai patung lembu sura diatas sebenarnya sudah ada sejak lama tahun 1980an namun isu yang berkembang ditemukan satu lagi secara tiba-tiba pasca kelud meletus di sekitaran aliran lahar. Sebenarnya menurut beberapa sesepuh sekitar kelud adalah hal yang tabu alias pantangan menggunjingkan patung lembu sura saat atau pasca kelud meletus.
- Menurut legendanya, letusan Gunung Kelud yang keberapa gitu (lupa) lembu sora keluar dari kuburnya. Letusan Pebruari 2014 kemarin ada yang lihat penampakan lembu sura deket gunung gedang persis sebelahnya gunung kelud. Terutama yang sering lihat penampakan ini adalah warga Sepawon.
- Penampakan lembu sura di Sepawon dan Nglegok inilah yang membuat daerah tersebut tidak separah letusan sebelumnya yang katanya material dan abu vulkanik ke tiup lembu sura ke arah kediri.
- Ada yang melihat juga awannya kemarin berbentuk kepala lembu dengan dua tanduknya dari utara berbelok ke barat menuju ngayukjokarto. Karena dinilai Jogja turut membantu kediri untuk ‘merebut’ gunung kelud dari blitar.
- Ketika kelud meletus dilarang senter-senter atau bermain senter mengarahkan ke gunung kelud. Gak tahu alasannya tetapi kang sugi (sugimasihada.com) punya pengalaman tidak mengenakkan waktu kecil. “Ngertine mung ra oleh senter2 pas gunung kelud meletus, soale pernah dulu diilokno temenan karo mbah kakung trus dengan tiba2 petir nyambar batang pohon kelapa pas diakarnya yg ada disebelah tempat sembunyi.”
- Banyak yang bilang sebelum meletus kisaran jam 9-an, ada sekelebat sepasang sinar yang bertarung dari timur menuju barat dan ketimur lagi. Kejadian ini persis ketika kelud mau meletus tahun 2007 silam.
Primbon Pekerjaan Yang Cocok
Dalam Horoskop Jawa untuk menentukan bidang profesi pekerjaan dibagi menjadi Tiga Kelompok. Masing-masing kelompok Hari dan Mangsa mempunyai pedoman pokok yang menentukan keberhasilan. Tetapi tidak pula menutup suatu kemungkinan yang luar biasa, artinya ada pula pengecualian bagi mereka yang mempunyai kelebihan, jenius, abnormal, supranormal dan paranormal. Namun biasanya tidak akan jauh meleset, dari garis-garis utama yang telah diuraikan. .
Danau Toba Bahasa Jawa
Nang jaman biyèn hiduplah sakwong wong nom tani yatim piatu ing bagian Lor pulau Sumatera Daerah kuwi sangatlah garing wong nom Kuwi urip soko bertani lan menangkap iwak jero terminology wong Batak disebut mandurung sing artine menangkap iwak.
Kuncung Bawuk, Sandal Jepit Anyar, lan Udan Awu Gunung Kelud
Esuk-esuk naliko wis kalung anduk arep adus, Kuncung kaget weruh langit isih peteng ndedet kaya tengah wengi, padahal wis wayahe jam enem esuk. Dheweke sansaya kaget weruh saka cendela menawa plataran omahe rupane dadi abu-abu. Kabeh barang ning latar dadi hitam putih kaya foto jaman mbiyen. Wit-witan sing maune ijo dadi abu-abu. Semana ugo suketan dadi abu-abu semu putih. Gendeng pendopo katon abu-abu, blumbang iwak emas saiki rupane putih kaya kolam susu.
Jumat, 01 Mei 2015
Patung Lembu sura dan kisah mistis seputar meletusnya gunung kelud
Minggu, 26 April 2015
Mitos yang Masih di Percayai oleh Orang Jawa
Mitos yang Masih di Percayai oleh Orang Jawa
Jaman yang telah memasuki era teknologi yang super canggih ini ternyata
tidak dapat lumpuhkan Budaya dari orang Jawa. Terutama apabila ada
kejadian yang berlangsung secara konstan, kondisi tersebut tidak bisa
diabaikan saja, karena sudah banyak kejadian yang ternyata membawa
dampak yang besar pada manusia.
Sebagian orang mengatakan mitos ini hanyalah sesuatu yang dianggap berhubungan dengan magis, namun disini saya
tidak membahas apakah mitos Jawa ini benar atau tidak, musyrik atau
tidak. Bahasan kali ini hanyalah sekedar informasi dan mitos yang
berkembang di kehidupan kita sehari-hari.
01. Burung Pipit Terus Berkicau
Burung pipit atau disebut juga burung prenjak adalah cara unik untuk
mengetahui kehadiran seorang tamu. Saat tamu akan datang burung akan
terus-menerus berkicau di rumah. Namun, ada beberapa arti yang hendak
disampaikan dari si burung.
Apabila si burung bertengger di depan atau sisi kanan rumah, tandanya si
tamu akan membawa berita baik dan kebaikan, namun lain halnya jika si
burung bertengger di belakang atau sisi kiri rumah, tandanya si tamu
akan membawa kabar buruk atau malapetaka.
02. Kupu-kupu Masuk ke Rumah
Mitos ini hampir sama seperti burung pipit, apabila kupu-kupu masuk ke
dalam rumah dan berputar-putar bahkan hinggap, tandanya rumah tersebut
akan kedatangan tamu dan jika kupu hinggap di badan salah satu anggota
keluarga, maka yang datang adalah orang dekat.
03. Burung gagak Terbang Berputar di atas Rumah
Orang jawa sangat percaya bahwa burung gagak adalah burung yang selalu
dikaitkan dengan hal-hal mistis. Apabila ia terbang berputar-putar di
atas rumah seseorang, maka dapat dipastikan akan ada penghuni rumah yang
meninggal.
04. Ayam Berkokok Sore Hari atau Tengah Malam
Orang tua dahulu percaya, bahwa apabila ada ayam jantan yang berkokok
sore hari atau tengah malam, maka akan datang wabah penyakit atau
gangguan makhluk halus. Hal ini ternyata masih dipercayai sampai
sekarang.
05. Menabrak Kucing dapat Celaka
Orang jawa percaya bahwa apabila saat sedang berkendara dan anda
menabrak kucing, maka ini adalah sebuah peringatan supaya berhati-hati
karena Anda bisa celaka.
06. Anak Perempuan Dilarang Duduk di Pintu
Konon, menurut budaya orang Jawa, apabila ada anak perempuan duduk di
pintu (di bawah palang pintu), maka ia akan jauh dari jodoh, budaya ini
masih begitu kental hingga sekarang.
07. Dilarang Foto Bertiga
Pernah mendengar larangan foto bertiga? Ya, kabarnya apabila mitos ini
dilanggar, maka orang yang berfoto di tengah akan meninggal. Namun ini
masih tidak tahu kebenarannya.
08. Tidak Boleh Sering Menangis Saat Hamil
Orang jawa percaya apabila sering menangis atau bersedih saat hamil,
maka anak yang dilahirkan akan cengeng dan seringkali menangis. Untuk
itu, para orang tua selalu mengingatkan agar saat hamil, seorang ibu
tidak boleh cengeng.
09. Jangan Menggigit Bibir Bagian Bawah
Menggigit bibir bagian bawah adalah kebiasaan yang buruk dan dilarang
oleh para tetua. Menurut mitos Jawa, apabila sering menggigit bibir
bagian bawah, maka akan bernasib buruk atau rejeki akan seret.
10. Jangan Bersiul di Sore atau Malam Hari
Pernah dengar larangan nenek saat Anda sering bersiul di waktu anak-anak
dulu? Konon, apabila sering bersiul saat sore atau malam hari, maka
tandanya mengundang makhluk halus. Nah, apabila sudah datang, maka ia
akan membalas siulan Anda.
Bagaimana menurut Anda Sahabat? Percaya atau tidak? semua mitos tersebut kembali lagi pada Anda yang pernah mendengar dan menjalaninya.
Rabu, 15 April 2015
Kanjeng Ratu Kidul dalam Masyarakat Jawa
Rabu, 01 April 2015
Memedi sebagai Mitos dalam Kepercayaan Masyarakat Jawa
Menurut seorang peneliti mitologi dari Perancis, Roland Barthes (1972), dalam bukunya yang berjudul Mithologies, mendefinisikan mitos sebagai “myth is associated with classical fables about spirits, gods, and heroes.” artinya adalah bahwa mitos merupakan cerita klasik yang berisi tentang roh, Tuhan/Dewa, dan pahlawan.
Mitos lahir dari kebudayaan tertentu yang diciptakan untuk beberapa tujuan, diantaranya:
- Untuk menjelaskan alam, sosial, budaya dan fakta-fakta alam melalui cerita-cerita yang telah terjadi di masa lalu.
- Mereka mencoba untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang, seperti; dari mana dunia berasal (kosmogoni)? Siapa atau apa penyebabnya (theogoni)? Apa tujuan hidup? Mengapa makhluk hidup mati? dsb.
- Kadang-kadang mitos juga mencoba untuk menjelaskan penyebab kebiasaan dan praktek-praktek tertentu atau bagaimana nama tertentu atau kejadian tertentu terjadi, dsb.
- Fungsi lain mitos adalah untuk membenarkan dan mengesahkan praktik ritual dan pemujaan atau perayaan.
- Mitos juga memainkan peran yang berwibawa dengan menawarkan ajaran-ajaran tentang asal-usul dunia, akhir dunia dan lain-lain.
- Di masyarakat tradisional, mitos memiliki nilai pendidikan, itu digunakan untuk memperkenalkan atau penekanan pada nilai moral tertentu.
Anja-Anja
Anja-anja adalah memedi (hantu) darah yang berupa manusia, yang akan menghisap manusia yang sedang tidur sehingga menimbulkan sakit yang sangat dan menyebabkan bercak-bercak biru di kulit. Ketika ada orang yang meninggal dengan bercak-bercak biru ini, maka orang-orang Jawa akan mengatakan “dilat Anja-anja” atau dijilat Anja-Anja.
Antu Alas
Antu adalah memedi (hantu) hutan. Hantu ini hanya menampakan diri di malam hari kepada orang-orang yang sedang berdiam di hutan atau yang sedang melewati hutan. Antu Alas berwujud awan atau kabut tebal yang secara perlahan berubah menjadi bentuk orang atau bentuk lainnya yang mengerikan. Selain berwujud mengerikan, suara yang berat dan tawa yang mengerikan menjadi ciri khas memedi ini. Karena wujud dan suaranya yang menakutkan membuat orang yang melihatnya menjadi sakit.
Antu Darat
Antu darat biasanya tinggal di kaki pohon tua. Pada malam hari, dia meninggalkan tempatnya dalam pakaian seorang haji. Dengan cara ini, Antu Darat membuat orang-orang yang dijumpainya terkejut dan menjadi sakit keras atau pun menjadi linglung untuk waktu yang tidak ditentukan.
Antu Laut
Antu laut ditakuti oleh para pelaut karena selalu mendatangkan cuaca buruk atau musibah. Memedi ini menampakkan diri dalam bentuk bola api atau bintang yang menyala yang jatuh di ujung tiang kapal. Bila Antu Laut dating, maka dipercaya akan diiringi oleh cuaca buruk seperti badai, dll.
Antu Omah
Antu Omah dikenal sebagai memedi rumah yang mendiami api tungku pemanas di rumah. Memedi ini akan keluar berbentuk asap yang kemudian menyerupai sosok manusia. Orang yang melihat memedi ini akan ketakutan dan menderita perut kembung.
Banaspati
Merupakan sosok yang menakutkan dengan wujud raksasa. Tangan dan kaki mengarah ke udara dengan posisi kepala berada di bawah serta mulutnya yang bergoyang. Dengan lompatan yang dahsyat, Banaspati menerkam mangsanya yang kemudian dihisap darahnya. Orang yang bertemu dengan memedi ini akan sakit bahkan sampai dengan mati.
Bajag Angrik
Merupakan memedi kecil di hutan dalam wujud anak-anak yang berdatangan. Apabila melihat orang, memedi ini akan menakut-nakuti dengan sikap mengancam.
Bermana dan Bermani
Merupakan memedi dari pasangan laki-laki dan peempuan yang telah meninggal dunia. Sifatnya menggoda pasangan yang telah menikah.
Blorong
Blorong dalam kepercayaan orang Jawa sering dipanggil ‘Nyai Blorong’. Sebagai Nyai, Blorong digambarkan sebagai perempuan yang cantik setengah ular dengan busana yang mewah dan menawan. Nyai Blorong mendiami istana-istana di daerah berawa yang dibangun dari tubuh korban-korbannya. Biasanya di tempat tersebut banyak ditemui kembang teratai untuk menyembunyikan tubuh-tubuh yang menjadi korbannya.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Nyai Blorong akan memberikan segala kekayaan yang idamkan oleh manusia dengan syarat harus menjadi pekerjanya setelah perjanjian habis. Perjanjiannya tersebut konon selama 14 tahun dan setiap tahun sebagai penggantinya harus memberikan seorang anak kecil atau sanak keluarga. Setelah masa perjanjian habis, maka yang menerima harta akan merasakan kesengsaraan dan kesakitan yang sebenarnya.
Bontot
Bergentayangan di jalan-jalan sunyi, tidur melintang di jalan ketika ada orang lewat, dengan cara ini maka seorang pejalan kaki akan tersandung lalu kemudian terkejut hingga tak sadarkan diri.
Cinunuk
Cinunuk merupakan memedi berbentuk binatang besar dan jahat. Mereka berasal dari hutan. Mereka berkeliaran dan merusak pepohonan dan tanaman. Dengan cara ini maka mereka mempersulit orang-orang yang sedang mencari kayu atau tumbuhan di hutan. Bagi manusia, memedi ini menakutkan. Dengan memberikan sesajen, manusia mencoba berinteraksi agar tidak mendapat gangguan.
Dadung Dawus
Mereka adalah pelindung hewan jenis rusa. Cara mereka adalah dengan menampakkan diri dalam bentuk rusa dan menggiring pemburu ke arah yang menjauh dari kelompok rusa yang sebenarnya.
Den Bisu
Den Bisu atau setan bisu menurut masyarakat Jawa merupakan penjelmaan dari penyakit kolera. Berjumpa dengan Den Bisu sangatlah berbahaya. Orang yang sampai berjumpa dengan Den Bisu akan menderita sakit perut yang parah.
Dhengen
Dhengen merupakan memedi penggoda dalam bentuk uap yang keluar dari tanah lalu masuk ke dalam tubuh manusia dan meninggalkan di dalam tubuh yang dirasuki benih-benih penyakit yang menyebabkan bengkaknya anggota badan, perut dan lainnya orang yang terkena penyakit beri-beri dan busung air.
Dinkel
Dinkel adalah memedi pengganggu binatang ternak, terutama ayam. Ayam yang sakit dan dalam sekejap mati, diduga diganggu oleh memedi ini.
Drubiksa
Drubiksa adalah memedi rumah. Drubiksa merupakan memedi yang kadang baik kadang jahat. Baik karena melindungi penghuni dari bahaya, sedangkan jahat karena sering usil dengan menaburkan pasir ke makanan, membuang/menjatuhkan alat-alat dapur.
Gebluk
Gebluk disebut juga sebagai Sambang Gebluk, yang merupakan memedi bagi binatang berkaki empat seperti kerbau dan sapi. Gebluk akan menampakkan diri sebagai uap putih yang transparan dari tempat-tempat lembab. Gebluk diyakini sebagai pembawa penyakit bagi binatang ternak bertanduk.
Genderuwo
Genderuwo merupakan memedi hutan atau kebun yang dapat menampakkan diri dalam berbagai bentuk, baik siang maupun malam hari. Pada siang hari, sering terlihat dalam bentuk seekor macan atau ular yang besar atau seekor buaya, burung pemangsa atau binatang pemangsa lainnya yang ditakuti oleh manusia. Pada malam hari, Genderuwo berubah bentuk menjadi seorang pemuda tampan dan mengganggu perempuan yang sedang berjalan sendirian di malam hari.
Hanga Igi
Hanga Igi merupakan memedi menakutkan dalam bentuk raksasa dengan rambut panjang terurai. Walaupun bentuknya mengerikan, memedi ini bersifat baik dengan melindungi orang dari bahaya yang mengancam.
Jerangkong
Jerangkong merupakan memedi yang berwujud anjing hitam yang kurus dengan bulu putih menutupi kepalanya. Memedi ini tidak terlalu membahayakan tapi mengganggu manusia.
Karo Kamilis
Karo Kamilis adalah pembantu para pencuri atau pelanggar hukum. Biasanya mereka berwujud kerbau, namun sering juga berwujud seorang suami tertentu untuk menipu sang istri.
Kanun
Kanun adalah memedi udara yang menakutkan, berbentuk raksasa yang tinggal di udara dan tiap hari memakan 40 memedi. Memedi ini termasuk memedi yang tidak mengganggu manusia.
Keblek
Keblek merupakan memedi kecil udara, berbentuk orang dengan tangan dan kaki kecil, namun dengan perut besar yang menggantung. Bila berada di udara, Keblek akan bergerak kesana kemari sambil mengeluarkan suara seolah-olah orang yang bertepuk tangan, oleh karena itu dinamakan Keblek.
Kemamang
Kemamang seperti Antu Laut, menampakkan diri sebagai bola api di rawa-rawa atau lapangan terbuka.
Kunthianak
Memedi yang berwujud sebagai wanita cantik dengan rambut yang terurai sampai tanah. Kunthianak dikenal dengan tawanya yang menakutkan. Secara umum, Kunthianak ditakuti oleh anak-anak dan ibu-ibu. Untuk melindungi dari kehadiran Kunthianak, seorang dukun bersalin membakar kemenyan untuk menempatkan pisau tajam di bawah kolong tempat tidur ibu yang sedang melahirkan.
Laha
Laha merupakan memedi berkepala burung pemangsa dengan kaki yang berjumlah empat.
Lampor
Lampor merupakan memedi udara yang oleh orang Jawa digambarkan sebagai manusia bersayap, namun berkepala banteng. Lampor dating bersamaan dengan suara gluduk (halilintar) yang disertai cuaca buruk, berawan, dan banjir. Memedi ini biasa menumpuk awan-awan menjadi satu yang kemudian mencurahkan hujan besar yang mengakibatkan banjir.
Ketika Lampor datang, maka penduduk desa akan memukul beduk, kentongan, dan alat bunyi-bunyian lainnya untuk mengusirnya sehingga akhirnya Lampor pergi ke arah laut.
Majusi
Majusi berwujud sebagai sifat buruk manusia. Diam di dalam tubuh seseorang yang sedang dicobanya sehingga akibatnya bagi orang tersebut akan menjadi mudah marah dsb.
Potok
Potok merupakan memedi yang secara khusus membawa penyakit terhadap binatang seperti sapi dan kerbau. Memedi ini diam di tempat lembab atu juga rawa-rawa.
Sawan dan Sarap
Dua jenis memedi ini merupakan memedi penggoda anak-anak kecil dan orang dewasa yang lemah. Keduanya tidak tampak dan tidak memiliki wujud khusus. Sawan merupakan penyebab penyakit kejang atau sawan pada anak-anak, dan gejala jatuh pingsan pada orang-orang yang telah lanjut usia. Sarap menampakkan diri pada anak-anak sehingga muncul bercak-bercak merah tebal yang disertai dengan perut kejang-kejang. Keduanya berbahaya, sehingga pada waktu-waktu tertentu orang Jawa membakar kemenyan sebagai sesaji bagi mereka.
Setan Usus
Setan Usus menampakkan diri sebagai kelompok usus yang tidak teratur dan pada saat lain dia menampakkan diri sebagai raksasa yang terluka dimana usus-ususnya terurai keluar. Usus-usus ini dapat membelit binatang yang dijumpainya.
Si Baung
Si Baung merupakan memedi hutan yang besar dalam wujud orang berkepala anjing. Bila berjumpa dengan manusia, maka Si Baung akan menggonggong dan menyebabkan orang yang dijumpainya akan sakit.
Si Belis
Si Belis merupakan memedi yang berada di lapangan dan biasanya merasuk ke dalam tubuh seseorang setelah jam 6 sore (magrib) ketika seseorang tersebut melintasi lapangan. Orang Jawa percaya bahwa akibat perjumpaan dengan Si Belis akan mendadak merasa kesakitan disertai sakit kepala.
Si Gundul
Si Gundul disebut juga Setan Gundul (tuyul) yang biasanya berwujud seorang anak berumur sekitar empat atau lima tahun dengan kepala plontos dan bertelanjang dada. Memedi ini apabila diminta akan mendatangkan harta. Layaknya Nyai Blorong, Si Gundul pun dalam kata lain menjadi memedi yang dipuja oleh segelintir orang yang ingin mendapat harta dengan jalan pintas.
Si Sato
Memedi yang dipercaya mempunyai wujud sebagai binatang berkaki empat, dapat masuk ke dalam tubuh ternak, kuda, dan binatang yang dipelihara di rumah yang menyebabkan perut binatang yg dirasuki akan menjadi kembung.
Wewe
Menurut orang Jawa, Wewe merupakan istri dari Genderuwo. Wewe digambarkan sebagai perempuan yang tua dan menakutkan dengan kulit keriput dan muka yang buruk. Selain itu, yang menjadi cirri-ciri khas memedi ini adalah buah dadanya yang menggantung ahmpir menyentuh tanah. Memedi ini mengincar anak-anak yang kemudian disembunyikan di bawah buah dadanya untuk selanjutnya di bawa ke tempat yang tersembunyi dan dijadikan korban.
Seperti mitos-mitos yang ada di wilayah lainnya seperti: Eropa dan Amerika dengan mitos Drakula dan Zombie, Mesir dengan Mumi, Cina dengan Vampir, Inggris dengan Werewolf (manusia serigala), mitos tentang roh-roh alam yang ada di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur di atas kiranya dipahami bukan dari segi kengeriannya namun akan lebih bijak bila kita mencoba memahami latar belakang dari cerita-cerita mitos tersebut, apa pesan yang ingin disampaikan dari mitos-mitos tersebut?
Disadari atau tidak, proses memitoskan (mengeramatkan) sesuatu hal pasti memiliki tujuan tertentu yang apabila digali lebih jauh maka kemungkinan akan menemukan jawaban yang tidak seperti orang awan menginterpretasikan suatu mitos tertentu karena dalam sebuah cerita mitos nampaklah suatu sifat manusiawi yang umum; bagai mana manusia menyusun strategi dan mengatur hubungan dengan alam.
Kamis, 26 Februari 2015
Mitos Runtuhnya Majapahit dan Mitos Gunung Kelud di Jawa Timur
Senin, 29 Desember 2014
Ramalan Serat Jayabaya
- Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
- Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
- Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
- Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
- Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
- Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
- Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
- Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
- Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
- Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
- Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
- Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
- keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
- Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
- Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
- Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
- Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
- Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
- Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
- Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
- Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
- Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
- Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
- Nantang bapa--- Menantang ayah.
- Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
- Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.
- Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
- Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
- Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
- Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
- Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
- Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
- Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
- Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
- Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
- Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
- Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
- Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
- Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
- Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
- Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
- Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
- Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
- Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
- Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
- Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
- Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
- Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
- Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
- Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang gonta-ganti pasangan.
- Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
- Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
- Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
- Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
- Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
- Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
- Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
- Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
- Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
- Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
- Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
- Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
- Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
- Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
- Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
- Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
- Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
- Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
- Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
- Akeh laknat--- Banyak kutukan
- Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
- Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
- Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
- Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
- Guru disatru---Guru dimusuhi.
- Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
- Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
- Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
- Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
- Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
- Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
- Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
- Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
- Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
- Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
- Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
- Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
- Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
- Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
- Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
- Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
- Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
- Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
- Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
- Akeh barang haram---Banyak barang haram.
- Akeh anak haram---Banyak anak haram.
- Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
- Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
- Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
- Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
- Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
- Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
- Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
- Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
- Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
- Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
- Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
- Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
- Sing wedi mati---Yang takut mati.
- Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
- Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
- Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
- Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
- Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
- Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
- Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
- Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
- Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
- Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
- Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
- Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
- Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
- Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
- Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
- Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
- Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
- Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
- Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
- Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
- Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
- Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
- Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
- Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
- Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
- Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
- Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
- Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
- Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
- Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
- Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
- Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
- Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
- Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
- Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
- Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
- Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
- Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
- Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
- Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
- Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
- Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
- Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
- Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
- Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
- Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
- Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
- Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
- Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
- Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
- Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
- Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
- Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
- Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
- Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
- Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
- Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
- Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
- Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
- Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
- Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
- Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
- Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
- Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
- Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
- Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
- Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
- Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
- Agama ditantang---Agama ditantang.
- Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
- Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
- Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
- Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
- Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
- Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
- Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
- Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
- Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
- Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
- Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
- Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
- Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
- Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
- Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
- Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
- Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
- Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
- Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
- Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
- Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
- Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
- Buruh mangluh---Buruh menangis.
- Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
- Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
- Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
- Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
- Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
- Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
- Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
- Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
- Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
- Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
- Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
- Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
- Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
- Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.
- Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
140. polahe wong Jawa kaya gabah diinteri\ endi sing bener endi sing sejati\ para tapa padha ora wani\ padha wedi ngajarake piwulang adi\ salah-salah anemani pati\
141. banjir bandang ana ngendi-endi\ gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni\ gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni\ marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti\
142. pancen wolak-waliking jaman\ amenangi jaman edan\ ora edan ora kumanan\ sing waras padha nggagas\ wong tani padha ditaleni\ wong dora padha ura-ura\ beja-bejane sing lali,\ isih beja kang eling lan waspadha\
143. ratu ora netepi janji\ musna kuwasa lan prabawane\ akeh omah ndhuwur kuda\ wong padha mangan wong\ kayu gligan lan wesi hiya padha doyan\ dirasa enak kaya roti bolu\ yen wengi padha ora bisa turu\
144. sing edan padha bisa dandan\ sing ambangkang padha bisa\ nggalang omah gedong magrong-magrong\
145. wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes\ akeh wong mati kaliren gisining panganan\ akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara\
146. wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil\ sing ora abisa maling digethingi\ sing pinter duraka dadi kanca\ wong bener sangsaya thenger-thenger\ wong salah sangsaya bungah\ akeh bandha musna tan karuan larine\ akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe\
147. bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret\ sakilan bumi dipajeki\ wong wadon nganggo panganggo lanang\ iku pertandhane yen bakal nemoni\ wolak-walike zaman\
148. akeh wong janji ora ditepati\ akeh wong nglanggar sumpahe dhewe\ manungsa padha seneng ngalap,\ tan anindakake hukuming Allah\ barang jahat diangkat-angkat\ barang suci dibenci\
149. akeh wong ngutamakake royal\ lali kamanungsane, lali kebecikane\ lali sanak lali kadang\ akeh bapa lali anak\ akeh anak mundhung biyung\ sedulur padha cidra\ keluarga padha curiga\ kanca dadi mungsuh\ manungsa lali asale\
150. ukuman ratu ora adil\ akeh pangkat jahat jahil\ kelakuan padha ganjil\ sing apik padha kepencil\ akarya apik manungsa isin\ luwih utama ngapusi\
151. wanita nglamar pria\ isih bayi padha mbayi\ sing pria padha ngasorake drajate dhewe\
Bait 152 sampai dengan 156 hilang
157. wong golek pangan pindha gabah den interi\ sing kebat kliwat, sing kasep kepleset\ sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik\ sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati\ nanging sing ngawur padha makmur\ sing ngati-ati padha sambat kepati-pati\
158. cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring\ melu Jawa sing padha eling\ sing tan eling miling-miling\ mlayu-mlayu kaya maling kena tuding\ eling mulih padha manjing\ akeh wong injir, akeh centhil\ sing eman ora keduman\ sing keduman ora eman\
159. selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun\ sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu\ bakal ana dewa ngejawantah\ apengawak manungsa\ apasurya padha bethara Kresna\ awatak Baladewa\ agegaman trisula wedha\ jinejer wolak-waliking zaman\ wong nyilih mbalekake,\ wong utang mbayar\ utang nyawa bayar nyawa\ utang wirang nyaur wirang\
160. sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa\ ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener\ lawase pitung bengi,\ parak esuk bener ilange\ bethara surya njumedhul\ bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur\ iku tandane putra Bethara Indra wus katon\ tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa\
161. dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan\ wetane bengawan banyu\ andhedukuh pindha Raden Gatotkaca\ arupa pagupon dara tundha tiga\ kaya manungsa angleledha\
162. akeh wong dicakot lemut mati\ akeh wong dicakot semut sirna\ akeh swara aneh tanpa rupa\ bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis\ tan kasat mata, tan arupa\ sing madhegani putrane Bethara Indra\ agegaman trisula wedha\ momongane padha dadi nayaka perang\ perange tanpa bala\ sakti mandraguna tanpa aji-aji
163. apeparap pangeraning prang\ tan pokro anggoning nyandhang\ ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang\ sing padha nyembah reca ndhaplang,\ cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang\
164. putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu\ hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti\ mumpuni sakabehing laku\ nugel tanah Jawa kaping pindho\ ngerahake jin setan\ kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo\ kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda\ landhepe triniji suci\ bener, jejeg, jujur\ kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong\
165. pendhak Sura nguntapa kumara\ kang wus katon nembus dosane\ kadhepake ngarsaning sang kuasa\ isih timur kaceluk wong tuwa\ paringane Gatotkaca sayuta\
166. idune idu geni\ sabdane malati\ sing mbregendhul mesti mati\ ora tuwo, enom padha dene bayi\ wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada\ garis sabda ora gentalan dina,\ beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira\ tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa\ nanging inung pilih-pilih sapa\
167. waskita pindha dewa\ bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira\ pindha lahir bareng sadina\ ora bisa diapusi marga bisa maca ati\ wasis, wegig, waskita,\ ngerti sakdurunge winarah\ bisa pirsa mbah-mbahira\ angawuningani jantraning zaman Jawa\ ngerti garise siji-sijining umat\ Tan kewran sasuruping zaman\
168. mula den upadinen sinatriya iku\ wus tan abapa, tan bibi, lola\ awus aputus weda Jawa\ mung angandelake trisula\ landheping trisula pucuk\ gegawe pati utawa utang nyawa\ sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan\ sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda\
169. sirik den wenehi\ ati malati bisa kesiku\ senenge anggodha anjejaluk cara nistha\ ngertiyo yen iku coba\ aja kaino\ ana beja-bejane sing den pundhuti\ ateges jantrane kaemong sira sebrayat\
170. ing ngarsa Begawan\ dudu pandhita sinebut pandhita\ dudu dewa sinebut dewa\ kaya dene manungsa\ dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh\ gawang-gawang terang ndrandhang\
171. aja gumun, aja ngungun\ hiya iku putrane Bethara Indra\ kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan\ tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh\ hiya siji iki kang bisa paring pituduh\ marang jarwane jangka kalaningsun\ tan kena den apusi\ marga bisa manjing jroning ati\ ana manungso kaiden ketemu\ uga ana jalma sing durung mangsane\ aja sirik aja gela\ iku dudu wektunira\ nganggo simbol ratu tanpa makutha\ mula sing menangi enggala den leluri\ aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu\ beja-bejane anak putu\
172. iki dalan kanggo sing eling lan waspada\ ing zaman kalabendu Jawa\ aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa\ cures ludhes saka braja jelma kumara\ aja-aja kleru pandhita samusana\ larinen pandhita asenjata trisula wedha\ iku hiya pinaringaning dewa\
173. nglurug tanpa bala\ yen menang tan ngasorake liyan\ para kawula padha suka-suka\ marga adiling pangeran wus teka\ ratune nyembah kawula\ angagem trisula wedha\ para pandhita hiya padha muja\ hiya iku momongane kaki Sabdopalon\ sing wis adu wirang nanging kondhang\ genaha kacetha kanthi njingglang\ nora ana wong ngresula kurang\ hiya iku tandane kalabendu wis minger\ centi wektu jejering kalamukti\ andayani indering jagad raya\ padha asung bhekti\
08.52
Unknown



